Keburukan bagi orang yang bersalah adalah tidak mau bertaubat (meminta maaf). Bertambah lagi keburukannya jika mencari-cari alasan pembenaran atas kesalahannya. Bertambah lagi keburukannya jika kesalahannya di rekayasa untuk ditampilkan sebagai kesalahan orang lain. Begitulah suatu penyakit jika tidak segera diobati akan terus bertambah-tambah. Allah berfirman: "Fi quluubihim maradhuun fazaadahumullahu maradhaan = Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu".
Showing posts with label Ceramah. Show all posts
Showing posts with label Ceramah. Show all posts
Sunday, November 10, 2013
Thursday, October 10, 2013
Hukum Mengangkat Anak Asuh
Mengangkat anak (anak asuh) tidak diharamkan tapi menghilangkan jejak garis keturunan orang tua sebenarnya (yang sah) dari si anak diharamkan, apalagi memberi nama anak angkat dg tambahan "bin" (anak laki) atau "binti" (anak perempuan) dari orang yang mengangkat (mengasuh) anak tsb. Penghilangan jejak/tali nasab (garis keturunan) ayah yg sah adalah pelanggaran thd hukum agama dan akan berimplikasi pada kekacauan & pelanggaran thd hukum agama yang lain seperti hukum waris, hukum nikah, hukum perwalian. Dengan demikian wali nikah seorang anak asuh/angkat wanita adalah walinya yang sah dari garis keturunan ayah yang sah dari si wanita, bukan bapak angkatnya atau yg selainnya. Taat & takutlah kpd Allah SWT selagi di dunia, karena akan menjadi kebaikan yg berlimpah di akhirat kelak.
(Sumber: Kudang Boro Seminar)
Saturday, August 10, 2013
Berbuat Baik Dengan Berbagai Sedekah Dan Infaq Yang Tulus
Berbuat baik dengan berbagai sedekah dan infaq yg tulus lillaahi wa billahi adalah kemuliaan. Namun berbuat baik dg dalih selain utk mencari ridho Allah (mardhotillah) baik secara terang-terangan atau tersamar (tersembunyi) perlu kewaspadaan dan pertimbangan baik bagi yg bersedekah dan yg menerima sedekah karena Allah berfirman: "Innallaaha aliimun bidzaati ashshudhuur = Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati" Apalagi jika kebaikan itu mengikat kita pada suatu komitmen atau keharusan yang justru berseberangan dangan akidah dan muamalah bahkan fanatisme yg tidak berdasar pada kebenaran.
Wednesday, July 10, 2013
Jangan Pelit Kepada Diri Sendiri dan Keluarga
Jangan pelit kepad diri sendiri dan keluarga sendiri sementara kita berkelapangan. Orang bisa dermawan kpd orang lain namun belum tentu bisa dermawan kpd diri sendiri. Sampai sampai menikmati makanan dan berbagai kenikmatan Allah untuk diri dan keluarga saja tidak mau mengeluarkannya. Allah berfirman: "Wa-ammaa bini'mati rabbika fahaddits = Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Maksudnya tunjukkanlah sebagai syiar nikmat yag Telah Allah berikan kpdmu dg jangan pelit kpd diri dan klg sendiri dan juga kpd orang lain).
Monday, June 10, 2013
Jangan Mengumpat
Bukan hanya mengumpat orang lain yg dilarang mengumpat diri pun dilarang dalam agama. Janganlah ketika kita lupa sesuatu lalu kita mengumpat diri sendiri dg kata-kata (misalnya): "Dasar pikun saya ini" atau "Pikun banget saya ini" atau "dasar otak gua sudah dedel" apalagi sambil memukul kepala atau jidad sendiri. Yang benar adalah jika lupa ucapkan "astaghfirullah, innallaha laa yanaamu walaa yashu = ampun yaa Allah sesungguh Allah Maha tidak tidur dan Maha tidak pelupa". Justru kita malah memohon kpd-NYA: "Yaa Allah lindungilah aku dari sifat pelupa yang membawa musibah dan kerusakan diri dan orang lain". Bukannya malah mendoakan diri dg mengumpat diri sendiri. Allah yang menciptakan kita saja mengampuni kealpaan/lupa ketika puasa atau sholat atau yg lain. Terlalu gegabah kalau kita malah mengumpat diri padahal tidak bisa menciptakan diri kita sendiri.
(Sumber: Kudang Boro Seminar)
Wednesday, May 1, 2013
Seseorang Yang Bergantung Dengan Meminta-minta
Mengejutkan para peminta-minta (pengemis) digaji Rp 1,2 juta tidak mau malah minta Rp10jt dan ternyata orang yg lebih dari cukup ternyata masih mencintai profesinya sbg peminta-minta. Ini memprihatinkan sekali karena menyangkut kerendahan akhlak, mental dan harga diri. Bahkan dia menjadi abdul dinar (hambanya uang) sehingga lebih merasa bahagia dengan minta-minta daripada berkeringat dg harga diri yg terhormat di mata Allah dan di mata manusia. Padahal Rasulullah s.a.w bersabda: "seseorang yang bergantung dengan minta-minta, maka badan dan kepalanya (wajah) nya akan dibangkitkan hanya tengkorak tanpa daging".
Thursday, April 11, 2013
Dua Kemungkinan Hati Manusia
Hati manusia hanya diisi oleh dua kemungkinan (1) ikatan kepada Allah (Dzikir Ilallah) (2) hasutan syaiton (hamazatiin syasyayathiina). Keduanya saling menolak dan saling menyerang. Jika penghuni hati yg pertama lebih kuat dari penghuni hati yang kedua maka manusia tsb masih bisa selamat dari hasutan syaitan. Sebaliknya jika penghuni hati kedua lebih kuat dari penghuni hati yang pertama manusia tsb bisa celaka dg banyak mudharat. Jika hati hanya dihuni oleh yg kedua itulah hati yg tertutup, yang tidak mungkin bisa disentuh oleh bisikan kebaikan yang kecil atau yg besar sekalipun. JIka hatinya hanya dihuni oleh penghuni pertama itulah manusia berakhlak sempurna, dan itu tidak ada kecuali Nabi Muhammad s.a.w yang hatinya sudah dibersihkan oleh Allah SWT.
Friday, August 5, 2011
Naskah Pidato | Ceramah Ramadhan | Konsep Kultum Ramadhan
Naskah Kultum Ramadhan | Ceramah Ramadhan | Konsep Pidato Ramadhan - Di bulan Ramadhan biasanya kita sering mendengarkan ceramah-ceramah singkat yang dibawakan oleh ustadz-ustadz ternama yang ada di daerah tempat kita tinggal. Hal ini sudahlah biasa kita temui disela-sela menunggu Sholat Tarawih setelah menjalankan Sholat Isya di Bulan Ramadhan. Bukan berarti kita yang muda-muda ini tidak berbakat untuk menjadi seorang da'i yang minimal tampil pada acara santapan rohani di bulan Ramadhan. Walaupun kita belum bisa mengimbangi para da'i-da'i kondang yang ada, kita cuma ingin melatih mental dan berbagi cerita serta pengalaman tentang isi ceramah yang akan kita sampaikan ke orang lain. Sekalian mencari amal ibadah lebih dimata Allah di bulan Ramadhan.
Jika anda memiliki sedikit keberanian, atau mungkin lagi mendapat tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru di sekolah untuk berceramah di masjid tempat anda tinggal dan tidak memiliki konsep atau naskah Kultum / Ceramah / Konsep Pidato di bulan puasa Ramadhan, anda tinggal mengcopy pastekan Naskah Ceramah Ramadhan yang ada di bawah ini yang bertemakan "Hikmah Puasa".
Jika anda memiliki sedikit keberanian, atau mungkin lagi mendapat tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru di sekolah untuk berceramah di masjid tempat anda tinggal dan tidak memiliki konsep atau naskah Kultum / Ceramah / Konsep Pidato di bulan puasa Ramadhan, anda tinggal mengcopy pastekan Naskah Ceramah Ramadhan yang ada di bawah ini yang bertemakan "Hikmah Puasa".
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam pasti memiliki hikmah; ada yang sudah diketahui dan ada hikmah yang masih tersembunyi. Ada yang sudah jelas bagi manusia dan ada yang masih menjadi rahasia. Pengetahuan akan hikmah ini menjadi penting karena dengannya seseorang akan lebih termotivasi dalam menjalankan amal tersebut serta semakin kuat keyakinan karena telah mendapatkan legitimasi akal.
Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa hikmah bukanlah penentu atau kunci dalam menjalankan amal. Dan inilah yang membedakan antara orang-orang liberal dengan orang-orang beriman yang sesungguhnya, mukminuuna haqqa. Bagi orang liberal yang secara ekstrim menempatkan akal melebihi nash syar’i, ibadah tidak dijalankan sampai diketahui hikmahnya. Sementara bagi orang beriman, selama ada dalil yang memerintahkan, amal akan dikerjakan; sudah diketahui hikmahnya maupun belum. Hikmah bisa dipikirkan/dicari tanpa meninggalkan amal: kalau nantinya hikmah itu terungkap, alhamdulillah, ia bisa menguatkan kontinuitas amal; kalau pun ternyata sampai akhir usia tidak juga diketahui hikmah, itu tidak berarti memutuskan amal yang telah jelas dalilnya.
Sesungguhnya, Allah tidak membutuhkan apapun dari hamba-Nya. Bahkan sebaliknya, manusialah yang sangat membutuhkan Allah SWT. Demikian pula dalam amal/ibadah, Allah tidak memerlukan ibadah manusia. Andaikata seluruh manusia beribadah kepada Allah atau tidak ada satupun yang beribadah, Allah tetaplah Rabbul ‘alamin, Tuhan semesta alam yang kekuasaan-Nya tidak akan berkurang. Maka, hikmah ibadah yang dilakukan manusia juga akan kembali kepada manusia.
Puasa merupakan ibadah istimewa yang karenanya Allah berfiman dalam hadits qudsi :
الصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِPuasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa –khususnya puasa Ramadhan- memiliki sejumlah hikmah dan maslahat bagi manusia. Secara umum, hikmah puasa bisa bisa diklasifikasikan menjadi tiga; hikmah ruhiyah, hikmah medis, dan hikmah sosial.
Hikmah Ruhiyah
Puasa merupakan ibadah yang langsung menyentuh dimensi ruhani. Porsinya bahkan lebih besar dari pada ibadah-ibadah lainnya. Jika zakat memiliki dimensi harta yang besar; dalam shalat masih terdapat dimensi gerak; dan haji memiliki dimensi gerak serta harta yang juga besar, puasa lebih concern pada dimensi ruhani. Karenanya ada banyak hikmah ruhiyah dalam ibadah puasa ini, diantaranya adalah:
1. Puasa mensucikan jiwa manusia
Dengan menjalankan ibadah puasa, manusia telah memilih untuk menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal untuknya. Sejak terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari manusia menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh. Kalau ia mau ia bisa saja melakukannya. Toh tidak ada yang mengetahuinya. Saat berada di rumah yang tertutup, di dalam kamar yang terkunci, tidak ada orang lain yang mengetahui jika ia makan atau minum. Tetapi ia tidak melakukannya karena Allah SWT.
يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى ، الصِّيَامُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ…dia tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala (HR Bukhari dan Muslim)
Di sinilah hikmah puasa; melatih seseorang untuk menahan nafsu syahwatnya yang merupakan bagian inheren dari kotoran jiwa. Puasa dapat membersihkannya karena pada puasa ada paksaan untuk mengerem berbagai hasrat yang dicenderungi oleh manusia. Padahal seringkali penyakit hati dan kotoran jiwa justru muncul ketika seseorang tanpa kendali menuruti semua keinginannya.
2. Puasa mengangkat unsur ruhani di atas unsur materi pada diri manusia
Manusia diciptakan Allah SWT dari unsur materi dan unsur non materi; tanah dan ruh. Saat manusia menuruti unsur tanah yang cenderung pada dunia maka kedudukannya akan turun bahkan melebihi binatang.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ [التين/5]Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (QS. At-Tin : 5)
أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [الأعراف/179]Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf : 179)
Sebaliknya, ketika manusia mengikuti unsur ruh yang cenderung pada akhirat dan mencintai hal-hal bernuansa langit, maka kedudukannya akan melambung tinggi ke derajat malaikat.
Pada saat berpuasa, di siang hari yang sangat panas unsur tanah dalam diri manusia mengajak untuk minum. Tetapi ia lebih memilih untuk memenangkan unsur ruhani untuk tetap berpuasa. Demikian juga saat perut lapar dan ada ajakan kuat unsur tanah untuk makan. Ia memenangkan unsur ruhani untuk tetap menahan rasa lapar sampai tiba saat berbuka. Lebih dari itu, ia juga memenangkan unsur ruhani pada lisan, pendengaran, dan pikiran dengan mengajaknya berpuasa pula.
Kemenangan ruhani inilah yang akan membawa kebahagiaan sejati bagi manusia di hadapat Rabb-nya kelak.
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِOrang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; ketika berbuka dia berbahagia dengan bukanya dan ketika bertemu Tuhannya dia berbahagia dengan puasanya. (Muttafaq 'Alaih)
3. Puasa melatih kesabaran
Inti dari kesabaran adalah menahan diri. Menahan diri dari dorongan untuk segera memiliki atau melakukan sesuatu yang negatif. Puasa membiasakan kesabaran, karena pada puasa kita menahan diri untuk tidak memenuhi sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok manusia sehari-hari yaitu makan dan minum. Menahan dari dari kebiasaan yang tidak boleh dilakukan saat puasa seperti minum kopi atau teh di pagi hari, ngemil di siang hari, dan sebagainya.
Kesabaran ini pada akhirnya juga mengikis kedengkian. Sebuah refleksi ketidaksabaran atas apa yang ada pada diri kita dibandingkan dengan apa yang ada pada orang lain.
Nabi SAW bersabda,
صوم شهر الصبر ، وثلاثة أيام من كل شهر ، يذهبن وغر الصدرPuasa bulan kesabaran dan tiga hari di setiap bulan dapat melenyapkan kedengkian dalam dada. (HR. Thabrani, Baghawi, dan Bazzar)
4. Puasa menekan gejolak seksual
Gejolak seksual merupakan salah satu senjata syetan yang paling ampuh dalam menjerumuskan manusia. Tidak hanya bagi pemuda yang belum menikah tetapi juga pada orang yang sudah berkeluarga. Itulah mengapa berita selingkuh terlalu sering diberitakan oleh media massa.
Puasa berpengaruh menekan gejolak seksual ini. Karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa.
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌWahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu maka nikahlah. Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedangkan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya. (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Puasa mempersiapkan manusia menjadi orang-orang yang bertaqwa
Ibnu Qudamah menjelaskan dua hal kelebihan puasa dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin. Pertama, puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain, sehingga tidak mudah disusupi riya’. Kedua, cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena sarana yang dipergunakan musuh adalah syahwat. Syahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan syahwat tetap subur, maka syetan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tapi jika syahwat ditinggalkan, maka jalan ke sana juga sempit.
Ketika seseorang ikhlas dalam menjalankan perintah Allah dan mampu meninggalkan larangan-Nya dengan kemampuan mengendalikan syahwatnya, maka pada saat itulah ia bisa mencapai derajat taqwa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة/183]Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 183)
Hikmah Medis
Kaum muslimin rahimakumullah,
Betapa banyaknya penyakit medis yang berawal dari pola makan yang tidak sehat. Dan betapa banyak penyakit yang berawal dari masalah pencernaan.
Selain memiliki hikmah ruhiyah yang tinggi, puasa juga memiliki hikmah medis yang telah terbukti melalui berbagai penelitian. Diantara hikmah itu adalah apa yang ditulis Said Hawa dalam Al-Islam, antara lain:
1. Puasa memberi kesempatan beristirahat bagi alat pencernaan setiap hari. Dengan peristirahatan yang teratur ini maka alat pencernaan menjadi lebih sehat. Dan sudah menjadi hal yang lazim bahwa puasa dipakai untuk mengobati beberapa pasien dan ketika akan melakukan operasi besar.
2. Telah terbukti kebenarannya secara ilmiah bahwa memperbanyak makan bisa menimbulkan penyakit yang munculnya berkaitan erat dengan kebiasaan banyak makan, seperti penyakit rematik, penyakit liver, tekanan darah tinggi, dan kencing manis. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa puasa akan bisa memberikan kesempatan istirahat bagi tubuh setiap tahunnya dalam waktu tertentu, yaitu seperdua belas dari umur si pasien. Oleh karena itu, penyebaran jenis-jenis penyakit seperti ini di daerah-daerah yang penduduknya terbiasa menjalankan puasa sangat rendah.
Hikmah Sosial
Ayyuhal hadirun hafidhakumullah,
Hikmah lainnya dari puasa adalah hikmah sosial. Dengan puasa seorang muslim dilatih oleh Allah SWT untuk merasakan lapar. Rasa lapar ini diperlukan oleh orang-orang yang kesehariannya berkecukupan palagi kaya yang mungkin tidak pernah merasakan rasa lapar semacam ini. Dengan merasakan lapar diharapkan orang yang kaya bisa membayangkan bahwa seperti inilah keadaan kaum dhuafa’; lapar, bahkan berhari-hari dan tidak mendapatkan kepastian berbuka dengan makanan bergizi. Maka, tahapan berikutnya adalah timbulnya empati kepada kaum dhuafa’ ini sehingga tergeraklah orang-orang kaya untuk menyantuni mereka.
Hikmah sosial lainnya adalah puasa yang telah melatih kejujuran pribadi merupakan training bersama kepada seluruh komponen masyarakat untuk hidup jujur. Dengan kejujuran ini maka kehidupan sosial akan berjalan lebih harmonis, korupsi menurun, dan pemenuhan tanggungjawab semua elemen bangsa meningkat sehingga umat Islam mengalami kemajuan yang signifikan.
Wallaahu a’lam bish shawab. [Sumber : Muchlisin]
Monday, April 14, 2008
Mantan Ilmuan
Ketika akhlak seorang ilmuwan semakin berbanding terbalik dengan tingkat keilmuannya maka ia telah berjalan menuju kondisi "mantan ilmuwan", akibat ingkar ilmu. Ketika tanda/bukti kebesaran Allah semakin terkuak dari keilmuan seseorang maka orang tsb semestinya makin tahu dan makin gemar beribadah kpd-NYA dan semakin takut untuk tidak taat kpd-NYA. Jika terjadi sebaliknya berarti orang tsb sedang menuju ke status "mantan ilmuwan" akibat ingkar ilmu. Dalam teori himpunan klasik tegasnya orang tsb masuk dalam anggota "himpunan orang yg tak berilmu" atau dalam pernyataan komplemental (negasional) dinyatakan sebagai bukan anggota dari "himpunan orang yg berilmu". Namun dalam teori himpunan fuzzy orang tsb bisa dikatakan sebagai anggota himpunan orang yg berilmu dg derajat keanggotaan yg sangat kecil mendekati nol, akibat buruknya akhlak. Dalam istilah syariah agama orang tsb disebut sebagai ulama suu' (ilmuwan yg buruk). Allah berfirman: "Apakah sama orang yg buta (tak berilmu) dengan orang yg melihat (berilmu)".
(sumber: Prof. Kudang Boro Seminar)
Subscribe to:
Posts (Atom)
